Perlawanan terhadap Kekuasaan Asing

Posted On September 6, 2009

Filed under My own life, Sekolah

Comments Dropped leave a response

  1. Perlawanan pada Masa VOC

A.Perlawanan Rakyat Maluku

Sikap keras yang dilakukan VOC terhadap rakyat Maluku membuat kaum mulim Hitu bekerja sama dengan orang-orang Ternate melawan VOC. Perlawanan rakyat Maluku yang dipimpin oleh Kakiali dan Telukabesi juga mendapat bantuan dari Kerjaan Gowa di Makassar. Sebagai pemimpian masyarakat Hitu, Kakiali melawan monopoli VOC dengan cara menyelundupkan cengkih. Ketika Kakiali ditangkap, orang-orang Hitu bersiap untuk berperang melawan VOC oleh karena itu, Gubernur Jendereal VOC, Antonio van Diemen memimpin sendiri operasi militer ke Maluku. Perlawanan rakyat Hitu terhadap VOC diteruskan di bawah pimpinan Telukabesi yang kemudian menyerah dan dibunuh pada tahun 1646.

Setelah terbunuhnya Kakiali dan Telukabesi, masyarakat Hitu masih melakukan perdagangan rempah-rempah secara gelap sehingga VOC mengangkat raja ternate, Mandarsyah dan menyuruhnya menandatangani perjanjian yang isinya melarang penanaman cengkih di semua wilayah, kecuali Ambon.

B. Perlawanan Kerjaan Gowa

Untuk menghancurkan kerajaan Gowa, VOC menjalin kerja sama dengan Aru Palaka, seorang pangeran Bugis dari kerjaan Bone. Pada tahun 1666 VOC mengirimkan ekspedisi terdiri dari 21 kapal yang mengangkut tentara Eropa, ditambah serdadu-serdadu Ambon beserta Aru Palaka dan anak buahnya di bawah pimpinan Corneli Speelman. Corneli berhasil menghancurkan armada Gowa, sementara Aru Palaka memimpin pertempuran darat. Pada 18 November 1667,  Sultan Hasanudin untuk menandatangani Perjanjian Bongaya yang berisi:

-          Makassar harus mengakui monopoli VOC

-          Wilayah Makassar dipersempit hingga tinggal Gowa saja

-          Makassar harus membayar ganti rugi perang

-          Hasanuddin harus mengakui Aru Palaka sebagai raja bone

-          Gowa tertutup bagi orang asing selain VOC

-          Benteng-benteng yang ada harus dihancurkan kecuali benteng Rotterdam

C. Perlawanan Mataram
Konflik pertama antara Mataram dengan VOC terjadi pada tahun 1618 di Jepara. Awalnya Mataram melarang menjual beras kepada VOC dan menuduh VOC merampok kapal-kapal orang Jawa. Penguasa Mataram atas nama Sultan Agung kemudian menyerang VOC.  Serangan itu segera mendapat balasan dari VOC setelahnya. Setelah Surabaya jatuh ke tangan mataram pada tahun 1925, Sultan Agung bersiap menyerang Batavia dari VOC. Tentara gelombang serangan pertama dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso, dan tentara gelombang serangan kedua dipimpin Tumenggung Suro Agul-Agul, Dipati Mandurejo, dan Dipati Uposonto.
Pada tahun 1629 Mataram melakukan serangan terhadap Batavia untuk kedua kalinya. Namun VOC menemukan dan membakar lumbung-lumbung beras persedian makan tentara Mataram. Demikian juga perahu-perahu yang disiapkan di tegal dan Cirebon dimusnahkan oleh VOC.

D. Perlawanan Trunojoyo
Setelah Sultan Agung wafat, beliau digantikan oleh putranya, Amangkurat I. Pada awal pemerintahannya, Amangkurat I telah menjalin hubungan baik dengan VOC. Gerakan yang cukup kuat untuk menentang Amangkurat I justru berasal dari putra mahkota, Pangeran Adipati Anom yang kelak bergelar Amangkurat II. Pada tahun 1670, Adipati Anom dan Trunojoyo, pangerang dari Madura yang membenci Amangkurat I bersekongkol untuk melawan Amangkurat I.
Pemberontakan Trunojoyo meletus pada tahun 1675. Walaupun Amangkurat I dibantu oleh VOC, tetapi tetap tidak dapat mengatasi kaum pemberontak. Sementara itu sikap Trunojoyo mulai berubah dan membuat Adipati Anom tidak senang. Iapun bekerja sama dengan VOC untuk menjatuhkan Trunojoyo dengan imbalan bahwa VOC akan mendapatkan hak monopoli dan memungut pajak di sepanjang pantai utara Jawa. Pada tahun 1679, Trunojoyo diserahkan kepada Amangkurat II yang kemudian menikamnya sampai mati. Dan pada akhirnya kekuasaan VOC makin besar.

Perlawanan terhadap Pemerintahan Belanda pada Abad XIX

A. Perang Padri
Agama Islam sudah tersebar di Minangkabau sejak abad XV. Namun dalam praktiknya di masyarakat, berbagai hal yang bertentangan dengan ajaran Islam masih banyak dilakukan. Pada tahun 1803, tiga orang haji bermaksud membersihkan kebiasaan yang menyimpan dari ajaran Islam tersebut. Ketiga haji dan pengikutnya itu disebut kaum Padri sementara golongan yang ingin mempertahakan adat yang selama ini mereka lakukan disebut kaum Adat. Perbedaan itulah yang menyebabkan perang yang melibatkan Belanda di pihak kaum adat. Tokoh-tokoh Padri diantaranya Tuanku Pasaman, Tuanku Nan Renceh, dan Tuanku Imam Bonjol. Dalam perang padre babak kedua, Belanda mengajak Sentot Ali Basa bersama prajuritnya. Tetapi ternyata Sentot Ali Basa dicurigai mengadakan hubungan dengan kaum Padri dan ditarik kembali ke Batavia. Pada tahun 1831, kaum adat dan kaum Padri bersatu melawan belanda. Walaupun menghadapi serangan dari berbagai pihak, namun karena persenjataan lebih lengkap Belanda akhirnya dapat merebut basis kekuasaan kaum Padri di kota Bonjol.

B. Perang Diponegoro
Pangeran Dipenogoro adalah seorang pangeran kesultanan Yogyakarta. Karena beberapa factor, meletuslah Perang Diponegoro. Oleh karena semua lapisan masyarakat menaruh kebencian kepada Belanda, pangeran Diponegoro mendapat dukungan luas untuk bergabung bersamanya. Selain Pangeran Mangkubumi, pangeran Diponegoro juga dibantu oleh Sentot Ali basa Prawirodirjo yang kemudian diangkat sebagai penasihat utama di bidang militer dan Kiai Mojo sebagai penasihat di bidang agama.
Pada awal tahun 1830, pemimpin tentara Belandar, Jenderal de Kock bermaksud segera mengakhiri perang dengan mengadakan perdamaian. Namun dengan siasat licik, pangeran diponegoro ditangkap dan dibawa ke Batavia kemudian diasingkan ke manado.

C. Perang Aceh
Pada 26 Maret 1873, Belanda mengirimkan ekspedisi pertama ke Aceh. Ekspedisi tersebut terdiri dari 3.000 tentara di bawah pimpinan Jenderal J.H.R. Kohler dengan sasaran pertama Masjid Baiturrahman di ibu kota Aceh. Sultan Mahmud syah mencoba mencari bantuan dari negara seperti Prancis, Inggris, Amerika, dan  Turki tetapi gagal.
Ekspedisi kedua dikirim pada akhir tahun 1873. Ekspedisi ini merupakan yang terbesar di antara ekspedisi yang pernah dikirim oleh Belanda di wilayah Indonesia. Ekspedisi itu dibawah pimpinan Jendral van Swieten. Di bawah pimpinan teuku (bangsawan) dan tengku (ulama), rakyat aceh siap bertempur dengan semangat jihad. Pimpinan rakyat Aceh itu adalah: Teuku Cik di Tiro, Panglima Polim, Teuku Umar, dan istrinya, Cut Nyak Dien. Menghadapi keadaan itu Belanda cukup kewalahan sehingga mereka mendatangkan Dr. Christian snouck Hurgronje dan van Heutsz untuk menyelidiki kehidupan dan struktur masyarakat aceh.
Guna memecah belahkan rakyat aceh, Belanda pada akhirnya bersukutu dengan para uleebalang (setingkat bupati di Jawa) hingga berhasil mengakhiri perang pada tahun 1903.

D. Perang Bali
Pada tahun 1841, seorang utusan Belanda mengadakan perjanjian dengan raja-raja di Klungkung, Buleleng, Badung, dan Karangasem untuk mengakhiri hak tawan karang (Hak raja-raja di Bali untuk merampas kapal beserta isinya yang terdampar di pantai wilayah kerajaannya). Namun perjanjian itu tidak sesuai dengan harapan masing-masing pihak hingga pada akhirnya Belanda menyerang Bali. Serangan Belanda yang pertama gagal. Tapidalam serangan kedua, Belanda berhasil menguasai pusat pertahanan Kerajaan Buleleng. Pertempuran terjadi di Jagaraga, sebelah timur kota singaraja sehingga dikenal dengan nama Puputan jagaraga (puputan = perang). Namun pada akhirnya Buleleng di Bali pun dapat dikuasai oleh Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.